*TOKO PIZZA*
Pintu kaca dengan bingkai merah menyebalkan itu menyambutnya dengan riang. Mamanya mendorong pintu itu dan masuk ke dalam toko yang aroma nya membuat ia ingin muntah. "AAAAAAAAAhhhh!" rasanya Zura ingin berteriak sekeras-kerasnya. Hanya saja itu sesuatu yang sangat tidak mungkin ia lakukan di toko yang menjual bundaran roti dengan aneka taburan itu. "Selamat siang" sambut pegawai toko berseragam dan bertopi merah bertuliskan Fun Pizza. Nampaknya cukup ramah wanita itu. Dan ia juga cantik bila ia tidak menggunakan bedak yang tebal dan lipstik yang merah membara. Well, apa wanita itu sedang dalam tekanan batin? Ah..biarlah.. Mella kemudian duduk di sebuah kursi merah yang kosong. Di depannya ada sebuah meja bernomor 07, dimana tangan Mella belum bisa meraih tepi meja itu secara sempurna, eh? Tentu saja. Mella masih SD, dan meja itu terlalu tinggi untuk diraihnya. "Mau pesan apa?" tanya Mama sambil menawarkan buku menu itu pada Mella. "Tindakan yang tepat, Ma" batinnya. Ia memang tak berminat pesan apa-apa.
Dengan tampang sok serius, adiknya itu memandangi satu persatu menu di toko itu. "Ini aja, Ma satu!" jarinya menunjuk pada pizza dengan taburan sayuran dengan sesuatu yang berwarna coklat muda. Euh! Jamur! "Zura, kamu nggak pesan?" tanya Mamanya. "Nggak Ma, aku ngga usah." jawabnya. Ia justru ingin cepat-cepat keluar dari toko itu. Emmhh.. bau pizza itu semakin membuatnya pusing.. Apa sich yang membuat Mamanya dan adiknya betah dengan aroma ini? Zura lalu menyinggungkan senyum kecut lalu berkata, "Ma, aku ke belakang dulu ya.."."Iya" jawab Mamanya. Ia lalu melangkah biasa menuju kamar mandi, setelah ia menemukan tulisan 'Toilet' dan memasukinya...Euh! Ohok..ohok..ohok... Zura memaksa bau itu keluar dari kepalanya dan memuntahkannya ke wastafel lalu menghidupkan keran untuk mencucinya. Uuhh.. Zura benci dengan bau menyebalkan itu... "Enyahlah dari hidupku, Pizza" batinnya. kemudian ia mematikan keran itu. "Hummh.."batinnya. Tahukah kau? saat Zura dalam kandungan, Mamanya ngidam Pizza tapi ngga keturutan. Gara-garanya, Papanya belum tahu di mana belinya dan gimana belinya. Waktu pertama kali di beliin pizza asli saat kelas 2 SMP, Zura seneng makan pizzanya. "Aneh banget.. " batin Zura. "Apa sich yang tiba-tiba buat aku ngga betah banget sama P.I.Z.Z.A?" batinnya lagi. Nah, ini dia yang masih misterius. But, yang jelas... Sekarang aroma pizza beneran buat Zura pingin muntah, you know?
Zura membuka pintu kamar mandi dan melangkah kembali ke tempat duduk Mella dan Mamanya,eh? Rupanya pizza jamur pesanan Mella sudah jadi. Ughh.. Andaikata Zura punya izin mencoret kata "Fun" pada kata "Fun Pizza" di toko itu.. Hmmh.. Dilihatnya Mella sudah siap siaga menyikat hidangan di depannya. Silahkan saja, Zura tak bernafsu sama sekali untuk merebutnya. "Emm.. Enak.. Lezat.. Nggak mau nih, Kak?? Enak lho.." rayu Mella."Ngga deh, kakak ngga minat." jawabnya. Zura lalu membatin "Mulai deh.. Ngerayu.. Emang hidupmu ngga bahagia apa kalau ngga ngerayu aku?Hmmh.. Dasar hantu kecil". Zura memang sudah terbiasa mendengar rayuan semacam itu dari Mella, dengan kata lain itu sudah pasaran atau bajakan,eh? Tapi, meskipun Mella merayunya sampai adiknya itu meler-meler atau menjilat bibirnya, Zura ngga akan tergoda. Di jamin deh.
Dengan semangat makan yang membara layaknya sudah setahun tak makan, Mella, adiknya melahap pizza itu hingga pipinya dipenuhi saus-saus pizza yang berlumuran. "Kamu kelaparan??" batinnya. "Ummm... Nyam..nyam..nyam.." ucap Mella setelah ia berhasil menguras habis pizza besar itu dalam waktu 10 menit saja. Ia lalu meminum jus jambu di sebelah nya. "Habis maem berdoa ya.." ucap Zura. "Iya, Kak.." jawab Mella. Seusai adiknya berdoa, seorang pelayan menghampiri mereka dan berkata "Bu, semuanya 25 dolar". Kemudian Mama mengeluarkan saku tebalnya, "Ini uangnya." ucap Mama sambil menyerahkan uang pas. "Terima kasih, jangan lupa berkunjung kembali."jawab pelayan toko itu. "Nah, sekarang kita ke mana lagi?" tanya Mama.
"Pulang aja, Ma. Aku kenyang." jawab Mella.
"Eiits.. Aku masih mau ke beli coklat. Mumpung tokonya deket."sahut Zura.
"Aku ngga mau ikut ah ama Kakak.."
"Hmm.. ya udah.. kamu sama Mama tunggu di sini. Aku berangkat ke toko coklat. Sebentar kok."
"Ya sudah. Mama di sini sama adik kamu. Tapi nanti kamu jangan lama-lama ya.." kata Mama.
Zura melangkah cepat menuju toko coklat yang berada beberapa blok di depan toko pizza. Beberapa saat setelah itu, ia tiba di toko. Di dorongnya pintu di depannya.
*TOKO COKLAT*
Tumpukan coklat tersusun rapi, dan dari semua coklat ini ia hanya menyukai satu coklat."Mana ya coklat putih nya?" batin Zura seraya memandang satu persatu deretan coklat itu. Aha! Sekarang ia menemukan deretan coklat putih! Tanpa pikir panjang, ia langsung menuju sasaran. Tampak di maniknya coklat putih berbagai merek standar Internasional,seperti : Madburry, SilverKing ,Topleron, Khacha, CanonValls, dll. Beberapa kali tangan Zura mengambil coklat putih dan mengembalikannya lagi. Belum ada yang cocok untuk seleranya. "Emm.. ini boleh juga.." batinnya sambil melihat coklat SilverKing yang diambilnya. Coklat itu bertabur potongan blueberry. "Sepertinya enak.. Hehhe.." batinnya lagi. Lalu dirinya mengambil 3 coklat SilverKing pilihannya dan membawa mereka ke kasir. Sayangnya, nasib hari ini tak begitu baik. Kenapa?
Antrian panjang menantinya untuk membayar 3 coklat itu.Uhh,.! Sepertinya ia harus sabar. Di toko itu hanya ada satu kasir dan tak ada kasir yang lain. So, mau tak mau ia harus menunggu. Zura berdiri tegak menunggu antrian kasir sementara tangan kanannya memegang 2 coklat dan tangan lainnya memegang 1 coklat saja.
10 menit kemudian...
Uhh.. Akhirnya tiba juga saat ia harus membayar coklat-coklat itu. "Nona, semuanya Rp 24.000 (kita rupiahkan saja)" kata penjaga kasir imut yang berdiri di sana. Zura lalu membuka dompetnya "20 ribu ditambah 3 ribu.. 23 ribu.." batinnya. "Ini uangnya" katanya. "Maaf Nona, kurang seribu" sahut penjaga kasir. "Mm.. Apa?? Kurang seribu. Sebentar ya.." kata Azura. Lalu ia membuka dompetnya lagi.. Uppss..! Tidak ada uangnya.. Gimana ini?? Kemudian ia merogoh semua kantungnya. "Ahh.. ini dia.." batinnya setelah merogoh kantung terakhir. Tanpa melihat jumlah uang itu, ia langsung menaruhnya di kasir.
"Nona, kurang 500 " jawab penjaga kasir.
"Hah.. jadi uang tadi cuman 500?? Mbak, coklatnya ngga bisa dikorting apa? "
"Tidak bisa, Nona"
"Ahhh... Ya sudah kalau begitu.. aku cuma beli 2 coklat saja. Yang satu dibatalin ya.."kata Zura.
"Eh? Jangan! Jangan dibatalin. Ini aku ada uang." sahut lelaki yang entah berasal dari mana. Lelaki itu membayar kekurangan uang Azura. "Hwahahahaha.. Akhirnya ada malaikat juga yang nolongin bayar." batin Zura.
Ia pun lekas keluar toko setelah membawa kantung plastik berisi 3 coklat. Ia lalu pergi ke tempat Mama dan adiknya menunggu. "Kak! lama banget sich! Aku udah berkarat nih.. Ah,.. Parah... " keluh Mella saat Zura baru tiba. "Kamu kok lama banget.. Ngapain aja?" tanya Mama.
"Tadi antrian panjang, Ma" jawab Azura. "Hemmh,. Alasan.. Ya sudahlah.. kita pulang saja.. Ayo.." sahut Mama. "Hemmmhh! Mama.. aku kan ngga bo'ong.." batinnya lalu mengikuti langkah Mamanya dan Mella yang sudah mendahuluinya.

0 comments:
Poskan Komentar